Abad Kegelapan Eropa


Pada umumnya abad pertengahan ini merupakan transisi masa dari kuno ke pertengahan sampai masa pencerahan. Perjalanan waktu dari masa ke masa tersebut tidak dapat dipungkiri tanpa adanya masa kemerosotan saat itu dan terjadinya keterbelakangan tatanan kehidupan yang memuat dari berbagai kejadian terjadi salah satu diantaranya, yaitu ;
1.      Kemunduran kehidupan
2.      Kemunduran kemakmuran masyarakat
3.      Terkekangnya pola pikir
4.      Politik yang bersifat feodalisme
5.      Kemundura pengetahuan.
Runtuhnya Romawi oleh suku bar-bar di Jerman, Scythia, Alaric dan Goth (406 M) menjadi latar belakang Romawi selanjutnya ditumbangkan oleh golongan agama (gereja) katolik pada abad 16-17. Pada tahun 1788 menggambarkan kejatuhan Roma atas barbarisme dari sebuah golongan yaitu golongan agama. Hal tersebut bisa dilihat saat agama  ini dijadikan agama resmi pada abad 5, yang mulai memegan seluruh tatanan kehidupan saat itu. (O’neil, 2010 : 20-22)
Awal abad pertengahan ditandai oleh runtuhnya Romawi dan jatuhnya Konstaninopel ke tangan Islam atau Turki. Abad in bermula pada abad ke-6 saat agama Kristen mulai menyebar dari wilayah asalnya atau kelahirannya yaitu Negara Palestina ke wilayah Eropa. Seiring berjalannya waktu hingga sampai memasuki yang benar-benar abad pertengahan merupakan masa kegelapan bagi bangsa Eropa yang terjadi pada abad ke-9 sampai abad ke-14 yang sering disebut dengan The Dark ages. Abad pertengahan ini juga disebut dengan abad kegelapan karena akibat kemundurannya peradaban manusia di Eropa. Di samping itu  pada abad ini terjadi kebangkitan dan berkembangannya agama Kristen yang mempengaruhi tatanan peradaban manusia di Eropa. Pengaruhnya mulai dari menentukan kehidupan, pemikiran, politik, sosial, dan pengetahuan, dalam akibat pelaksanaannya yang melanggar atau tidak sesuai dengan agama akan dihukum atau dibunuh. (Djadja, 2012 : 34-37)
Pengaruh dari agama tersebut memengaruhi para teologi yang selalu dikaitkan dengan keagamaan sampai lahir semboyan Ancilla Theologia yang berarti abdi negara. Lahir semboyan itu karena pembatasan pemikiran atas dasar agama agar tidak menyimpang dari hakikat keagamaan. Abad kegelapan ini juga menghentikan perkembangan pengetahuan yang sudah ada sejak zaman Yunani-Romawi. Selain itu dalam pengaruhnya agama Kristen yang mengatur hukum dan ketentuan religi atau Tuhan. Dominasi tersebut membuat berpikir bebas terbatas dan terkikisnya pemikiran manusia, oleh karena itu tatanan sosial terbagi mulai dari golongan penguasa, golongan menengah yang mengurusi materi dan patuh terhadap golongan pertama atau golongan pengusa, terakhir golongan buruh dan petani yang menjadi korban yang paling terasa dari praktik agama dan golongan penguasa. Klasifikasi ini mengakibatkan kekacauan dan kesimpangan dalam tatanan sosial masyarakat. (Djadja, 2012 : 37-39)

https://www.google.com/url?sa=i&source=imgres&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwilqrfc9vHnAhVBjuYKHcomCFwQjRx6BAgBEAQ&url=http%3A%2F%2Fbluemoonnafisa.blogspot.com%2F2014%2F05%2Fabad-pertengahan-eropa-dan-dominasi.html&psig=AOvVaw2tbW9LPBCsccnow_wpdQfk&ust=1582899616086044



Berbagai penyelewengan yang sebagian telah disebutkan diatas, adapun penyelewengan dibidang agama yang menimbulkan pemahaman yang menyimpang mulai dari pemahaman pengampunan dosa dengan membayar untuk kedudukan di surga. Arus pemikiran juga ikut terpengaruhi kesesuaian tentang baik dan buruk menurut agama (gereja) yang melarang perbedaan dengan agama (gereja). Para filsuf pun tak lagi kritis terhadap persoalan yang terjadi di dalam tatana kehidupan terutama terhadap realitas akan sesuatu, hal itu karena dikekangnya pemikiran oleh agama. (Djadja, 2012 : 39-40)
Munculnya agama Kristiani dan berkembang dikalangan masyarakat menimbulkan kemunduran dalam beragama seperti yang telah disebutkan, mulai dari pengampunan dosa dan surat kedudukan disurga yang semua itu tebus dengan cara membayar kepaada agama. Hal tersebut bermula agama memberikan penawaran yang memikat kepada masyarakat tentang kedamaian dan ketenangan jiwa. Oleh karena hal itu menjadikan tempat ibadah agama Kristiani atau sering disebut Gereja, menjadi salah satu tempat menuju jalan ke surga dan sebagai rujukan perlindungan rakyat dari berbagai macam bahaya yang mengancam ketenangan dan kedamaian seperti gangguan peperangan dan penderitaan kemiskinan. (Asy’ari, 2018)
Dibalik penawaran agama tersebut kepada masyarakat itu seharusnya agama sebagai  pelindung rohani rakyat yang tidak menyengsarakan. Hal itu dimulai dari kesejahteraan sampai ketenangan jiwa rakyat yang harus diperhatikan atau dilindungi, agama ini malah berlaku sebaliknya atau  semena-semenanya kepada rakyat dalam menggunakan kepercayaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Penawaran menggiurkan itu dikemas dengan penjualan surat Indulgensia yang malah menyengsarakan rakyat. Berkembangnya agama menjadikan gereja sebagai dominasi dalam keseluruhan pola pikir manusia yang berakibat manusia ke arah kegelapan karena terkekangnya kebebasan berpikir. Selain itu menjadikan kebenaran sesuai ukuran dari gereja bukan menurut kebenaran manusia, hal ini bersimpangan dengan teori Humanisme yang menganggap manusia mampu mengatur dirinya sendiri dan mengatur dunia. (Asy’ari, 2018)
Pola pikir manusia yang dibatasi dan ditekan oleh gereja, menghadirkan seseorang manusia harus selalu dikaitkan dengan tujuan akhir yang disebut ekstologi. Oleh karena itu muncul para pemikir filsafat shcolastik, pemikiran yang berdasarkan theology dan digunakan sebagai alat pemebenaran agama atau kepentingan agama. Sebelum adanya pengaruh agama di Eropa dalam tatanan kehidupan manusia yang sedikit nya telah diuraikan di atas. Kehidupan para golongan atas salah satunya golonga ksatria yang hidup penuh  kemewahan, kemegahan, keperkasaan, dan kemahsyuran. Namun agama yang ini semula dibatasi kerajaan atas saran gereja, sehingga agama tidak tinggal diam dan mengambil langkah gerangkan kultural yang dikemas dengan pembaharuan jiwa, sosial, mengikis tatanan kehidupan dan kegerejaan di Italia pada abad ke-14. Agama tersebut memiliki tokoh atau pemikir berpengaruh dalam penyebaran kitab Injil yang berguna sebagai kemaslahatan rakyat dan salah satu pengagas dalam hal tersebut. Setidaknya ada dua diantara tokoh lain, diantaranya seperti Thomas Aquinas dan St Agustinus. (Saifullah, 2014 : 134)
Selain dari pengaruh agama karena mengkhianati kepercayaan kepada rakyat, pengaruh persaingan pasar dengan dunia Islam yang menambah beban. Namun   disamping itu memunculkan para filsuf Islam dan Yunani yang smpai ke Eropa. Hal ini dimulai pada abad ke-12. Keresahan itu pun menimbulkan pemikiran Renaissance yang mendorong masyarakat untuk mempelajari bahasa Latin dalam memahami gagasan penulis Yunani-Romawi yang telah diterjemahkann oleh pimikir Islam. Karena keterpurukan tersebut rakyat atau bangsa Eropa berhasil berpikir dan bangkit dengan mendapatkan solusi agar mengikis permasalah yang diderita khususnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pola pikir manusia pada saat itu. (Djadja, 2012 : 37)
Kata Renaissance ini sendiri diartikan sebagai kelahiran kembali. Secara etimologi disebutkan bahwa Renaissance berasal dari bahasa latin yaitu Re berarti kembali dan Naitre berarti lahir. Secara arti teminologi adalah peralihan atau perubahan pandangan hidup. Hal ini diawali didaerah Italia setelah runtuhnya Romawi Barat tahun 476 M, selama abad 8-11 M perdagangan di Laut Tengah dikuasai oleh pedagang muslim, namun tak lama kemudian sejak terjadi perang salib abad 11-13 pelabuhan di Italian menjadi ramai kembali dan menjadi kota-kota dagang. Kota dagang tersebut diantaranya Genoa, Florence, Venesia, pisa di Milano yang dikuasa oleh para golongan Berjois seperti keluarga Medicci dari Florence. Para Berjois ini mendorong untuk terjadinya perubahan-perubahan pola pikir masyarakat tradisional menjadi masyarakat lebih modern. (Saifullah, 2014 : 133)
Setelah gencar dilakukan Renaissance abad 15-16 M, dimana masyarakat melakukan pembaharuan secara serentak yang menginginkan kebebasan dan mengubah doktrin agama yang mengekang kemerdekaan. Perkembangan pertama terjadi di kota Firenze, keluaraga Medicci yang memiliki masalah dengan kepausan menjadi faktor pendukung di wilayah Mediterania sehingga para kaum intelektual mendapat perlindungan dan berhasil menjalar ke daratan Eropa lainnya. Adapun faktor lain terjadinya adalah jatuhnya Eropa Timur yang ditandai dengan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Islam pada tahun 1453 di daerah Byzantium yang disusul jatuhnya Bulgaria, Yugoslavia, Rumania, dan seluruh Balkan. Menurut seorang tokoh Prancis yang bernama Michel De Certeau yang menyebutkan factor lain dari munculnya Renaissance, karena terputus nya jaringan-jaringan sosial dan tumbuhnya elit-elit baru. Meski adanya usaha untuk mengendalikan kembali dengan menggunakan berbagai teknik salah satunya teknik visual yang dikemas dengan pameran untuk mengilhami keperecayaan, khotbah yang memanipulasi dan mistisme yang diambil dari budaya klasik sebagai salah satu cara mempersatukan kembali. Namun hal itu ditepis karena  kota-kota dagang yang berkembang akibat terjadi arus perdaganan  mengubah pemikiran masyarakat agar lebih maju kearah lebih baik dan menjadi masyarakat bebas. (Saifullah, 2014 : 133-135)


Djadja, W. (2012). Sejarah Eropa Dari Eropa Kuno Hingga Eropa Modern. Yogyakarta: Ombak.
O’neil, J. J. (2010). Perang-perang Suci : Islam dan Matinya Peradaban Klasik. USA: Ingram Book Group.
Saifullah. (2014). Renaissance dan Humanisme Sebagai Jembatan Lahirnya Filsafat Modern. Ushulluddin, 22(2), 11.
Wijaya, Daya. Pengantar Sejarah Eropa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian dan Karakteristik Startegi Pembelajaran Induktif