Review Film War Witch (2012)


            War Witch atau Rebelle (perang sihir) merupakan sebuah film berdurasi 90 menit yang dibuat oleh negara asal Kanada. Film ini bergenre drama yang dibalut dengan crime dan dirilis pada tahun 2012, yang ditulis dan disutradai oleh Kim Nguyen. Pemeran dalam film ini diantaranya Rachel Mwanza sebagai Komona, Serge Kayinda sebagai Majissie, dan Alain Lino Mic Eli Bastien sebagai commandant great tiger.

            War Witch juga sebuah film yang berkisah dengan latar film di Afrika, meski tidak menjelaskan secara tepat nama negaranya dalam cerita kisah film ini. Hanya saja film ini disebutkakn oleh penulis, sebagai film yang disembahkan dan dalam pembuatan sebagian besar dilakasankan di wilayah Republik Demokratik Kongo. Selain itu jajaran cast atau pemeran yang berasal dari sana.

Pada awal film ini menceritakan tentang seorang anak perempuan yang bernama Komona tinggal di sebuah daerah atau perkampungan di tepi sungai. Diawal film ini dia akan menceritakn dirinya sendiri untuk kelak anaknya nanti, tentang sebuah perjalan kehidupan yang pahit sebagai tentara pemberontak. Perjalan kehidupannya bermula saat dia berumur 12 tahun dan datangnya tentara pemberontak yang bernama great tiger kerberbagai daerah dan menculik orang-orang termasuk anak-anak tanpa memandang laki-laki atau perempuan untuk dijadikan pasukan tambahan kelompok tersebut.

Hingga suatu ketika tentara kelompok tersebut datang ketempat Komona tinggal dan menculik orang-orang serta anak-anak dan membuat panik situasi karena memaksa dengan menembak acak senjata api, hal itu pun agar orang-orang turut dan tanduk sehingga mengikuti perintah dari kelompok pemberontak ini. Penculikan tersebut memakan korban dan salah satu yang diculik adalah Komona sendri. Meski Komona sempat berusaha kabur dari kejaran kelompok tersebut kelompok Namun pada akhirnya tertangkap. Sesaat dia tertangkap dan dia malah dibawa kerumah Komona sendiri oleh komandan pasukan kelompok tersebut untuk menyuruh Komona membunuh orang tuanya dengan senjata yang diberikan komandan itu. Hal ini menjadi pilihan terberat karena ketika komandan itu menyuruhnya membunuh orangtuanya Komona sempat berada diposisi yang amat bingung tidak tahu harus bagaimana, karena kebingungan komandan itu memberikan pilihan yang semakin membuat bingung. Pilihan tersebut ialah dibunuh oleh Komona dengan senjata api atau dibunuh komandan dengan parang.

Saat dia merasa kebingungan orang tuanya berkata dan menyakinkan bahwa Komona harus rela, lalu Komona pun sambil menangis memilih menembak orang tuanya. Sesudah kejadian itu orang-orang yang diculik dibawa untuk dilatih disebuah hutan belantara. Latihan tersebut dimulai dengan berjalan jauh tanpa diberi makan selama 2 hari, dan suatu ketika dalam ritualnya untuk menyambut pasukan baru dengan diberi getah pohon yang disebut merekan getah pohon ajaib dan para pasukan baru pun meminumnya. Hal ini bermaksud untuk memberi kekuatan keberanian pada pasukan baru tersebut, namun pada saat Komona meminum getah pohon dia mampu merasakan roh-roh disekitarnya. Roh tersebut pada awalnya membuat Komono ketakukan tetapi disamping itu roh menjadi salah satu faktor pembantu kemenangan perang bagi kelompok pemberontak.

            Oleh karena hal itu Komona disebut Penyihir karena membantu kemenangan kelompok tersebut. Melewati dari berbagai kejadian Komona mendapatkan perhatian lebih dan perlindungan dari seorang teman dekat yang nantinya menjadi seorang suami bagi Komona. Orang tersebut bernama Majissie remaja seusianya yang albino, selain itu Majissie mengajak keluar Komona dari kelompok pemberontak ini karena sudah merasa resah terlebih lagi Majissie bercerita tentang penyihir sebelum Komona mati karena membuat kalah kelompok.

            Suatu ketika kaburlah mereka tersebut dan menuju kekediaman paman Majissie, namun dalam perjalannya Majissie mengatakan bahwa ia mencintai dan ingin menikahi Komona. Komona sendiri tidak langsung memberikan jawabannya melainkan dia ingat perkataan ayahnya bahwa kelak jiaka ada yang ini menikahinya harus membawa hayam putih.

            Hal tersebutpun oleh Majissie dicari karena dia mencintai Komona, meski sempat merasa kesal karena tidak kunjung menemukan persyaratan tersebut. Pada akhirnya ditemukan disebuah perkampungan khusu orang albino dan Majissie pun membawa dan memberikannya kepada Komona, setelah itu Komona menerima dan menikahlah mereka berdua.

            Setelah mereka dan berhasil sampai ke tempat pamannya Majissie yang seorang tukang jagal, namun seiring berjalannya waktu pasukan pemberontak berhasil menemukan mereka berdua dan menangkapnya. Seperti biasa saat mereka ditangkap karena kelompok tersebut membutuhkan Komona sebagai penyihir, komandan tersebut memberikan pilihan seperti membunuh orang tuanya dengan senjata tajam atau dibunuh komandan dengan parang. Namun disini Komona disuruh membunuh Majissie, karena dia ragu dan tidak sanggup akhirnya komandan yang membunuh Majissie denga parang.  

            Sesudah kejadian tersebut dibawalah Komona kembali ke markas. Komandan yang merasa harus butuh teman tidurnya dan akhirnya memilih Komona sebagai teman tidurnya meski berat dia tidak punya pilihan. Dari kejadian tersebut Komona memiliki anak yang masih dalam kandungan, karena dia sudah merasa jengkel kepada komandan dia menjebak komandan dengan ranjau yang disimpan didalam alat kelaminnya Komona. Ranjau itu berhasil dan Komona membunuh komandan dengan sebilah parang yang tajam, sesudah kejadian tersebut Komona melarikan diri dengan keadaan sakit karena ranjau yang masih ada didalam alat kelaminnya. Meski sempat ke klinik didaerah pemukiman namun Komona dianggap berbahaya karena membawa senjata api, akhirnya ditolak dan dimasukan kepenjara. Adanya polisi yang merasa kasihan dan menjadi salah satu penolong baginya, dia pun dibawa polisi ke daerah pamannya yang tukan jagal itu.

            Sampailah Komona di kediaman pamannya, dan demi waktu kewaktu dia menjalani kehidupan seperti biasanya. Hingga pada suatu ketika mengigau dan mencekik istri dari pamannya itu, karena merasa malu dia memilih pergi untuk ketempat tinggal dia dulu, karena sering bermimpi didatangi orang tuanya yang menyuruh menguburkan mereka. Keresahan tersebutpun memperkuat Komona untuk kembali, namun dia pergi dalam keadaan hamil besar yang sudah waktunya melahirnya dan hingga pada suatu ketika sesudah menaiki kapal yang menuju tempat asal dan dia sampai didaratan. Karena sudah tidak kuat dia melahirkan didaratan tersebut dengan seorang diri dan diapun berhasil melahirkan anaknya. Sesudah melahirkan anakanya itu dan sampai pada bagian akhir dari film ini dia melanjutkan perjalannya dan kemudian sampailah ditimpat tinggalnya dulu. Tidak lama sesampainya Komona bergegas mencari mayat atau peninggalan orangtuannya dan kemudian dia berhasil menemukan peninggalannya untuk dikubur. Setelah dikuburnya peninggalan tersebut Komona kembali menjadi lebih merasa tenang dan melanjutkan kehidupannya ditempat tinggal tersebut dengan keadaan aman dan tenang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian dan Karakteristik Startegi Pembelajaran Induktif